Dagang! Dagang! Dagang! Dan DAGANG!
Benar-benar baru sadar dari mana bawaan untuk jadi pedagang atau buat usaha ini ternyata datangnya dari pihak Mama (mungkin, karena kata para pakarnya mau dagang ataupun usaha itu bukan hanya bakat/bawaan, tapi juga TEKAT dan KETEKUNAN. Iya bukan..?!?!? :D koreksi ya kalau salah ;) ting! ). Dari keluarga Mama, cuma Mama yang ambil jalan aman, jadi PN. Almarhum Ka’i dan Nene’ adalah petani dan juga buka warung kecil untuk menghidupi ketiga anaknya, Julak (kakaknya Mama), Mama, dan Amang (adenya Mama). Prinsipnya Julak dan Amang itu sama “lebih baik tangan di atas!”. Mereka bukan orang yang suka cari jalan aman. Sepanjang hidup mereka yang saya tau, mereka selalu berusaha dalam hal jasa atau perdagangan. Mereka lebih memilih dapat menggaji orang lain daripada menerima gaji orang lain.
Hal tersebut sepertinya menular pada saya. Entah bawaan atau bukan, tersertahlah. Saya baru ingat saat akan menuliskan ini, dulu sewaktu saya masih kelas 1-3 SD mungkin, saya sering ikut menjualkan dagangan milik teman saya. Hihi… rada lucu sih waktu itu. Yang saya jual adalah kue-kue atau buah-buahan yang saya dan teman saya dapatkan di hutan. Bayarnya?? Jangan ditanya. Waktu itu karena di desa, bayarnya kalau tidak ada uang bisa diganti dengan beras yang ditentukan takarannya oleh kami. Saat berjualan, saya dan teman saya menyeberangi sungai menuju daerah di seberang tempat tinggal kami. Kami berpencar untuk berjualan, istilahnya membagi wilayah agar tidak terjadi persaingan. #lhoo… Saat berjualan, saya sangat semangat sekali. Rasanya sangat MENARIK! Senang ruar binasa saat dagangan habis terjual.
Jika dagangan sudah habis, kami satu sama lain saling menunggu untuk kembali menyeberangi sungai untuk pulang. Sesampainya di rumah teman saya, kami menghitung penghasilan jualan hari itu dan hasilnya dibagi 2. Duh, asli senangnya waktu itu. Walaupun nggak seberapa, tapi itu hasil jerih payah kami sendiri. Mau tau satu hal, orang tua saya tidak pernah mengetahui kalau anaknya waktu itu suka dagangin dagangan orang ke sana kemari dengan kucelnya.
Hal itu tentu saja pengalaman yang sangat berharga. Tidak ada rasa malu saat itu, yang ada hanya “asal ketun senang” (*bahasa dayak: asal anda senang). Bersyukur berapapun yang didapat hari itu, dan tentu saja langsung habis jajan di mana-mana hari itu juga :p hehe….
Selama beberapa tahun, ingatan ini entah terendap di mana. Sekarang, terus terang sedikit malu untuk melakukan hal seperti itu lagi. Tapi, kembali lagi setiap menghadapi hal seperti itu, satu pernyataan berikut ini selalu muncul di otak saya
Benar-benar baru sadar dari mana bawaan untuk jadi pedagang atau buat usaha ini ternyata datangnya dari pihak Mama (mungkin, karena kata para pakarnya mau dagang ataupun usaha itu bukan hanya bakat/bawaan, tapi juga TEKAT dan KETEKUNAN. Iya bukan..?!?!? :D koreksi ya kalau salah ;) ting! ). Dari keluarga Mama, cuma Mama yang ambil jalan aman, jadi PN. Almarhum Ka’i dan Nene’ adalah petani dan juga buka warung kecil untuk menghidupi ketiga anaknya, Julak (kakaknya Mama), Mama, dan Amang (adenya Mama). Prinsipnya Julak dan Amang itu sama “lebih baik tangan di atas!”. Mereka bukan orang yang suka cari jalan aman. Sepanjang hidup mereka yang saya tau, mereka selalu berusaha dalam hal jasa atau perdagangan. Mereka lebih memilih dapat menggaji orang lain daripada menerima gaji orang lain.
Hal tersebut sepertinya menular pada saya. Entah bawaan atau bukan, tersertahlah. Saya baru ingat saat akan menuliskan ini, dulu sewaktu saya masih kelas 1-3 SD mungkin, saya sering ikut menjualkan dagangan milik teman saya. Hihi… rada lucu sih waktu itu. Yang saya jual adalah kue-kue atau buah-buahan yang saya dan teman saya dapatkan di hutan. Bayarnya?? Jangan ditanya. Waktu itu karena di desa, bayarnya kalau tidak ada uang bisa diganti dengan beras yang ditentukan takarannya oleh kami. Saat berjualan, saya dan teman saya menyeberangi sungai menuju daerah di seberang tempat tinggal kami. Kami berpencar untuk berjualan, istilahnya membagi wilayah agar tidak terjadi persaingan. #lhoo… Saat berjualan, saya sangat semangat sekali. Rasanya sangat MENARIK! Senang ruar binasa saat dagangan habis terjual.
Jika dagangan sudah habis, kami satu sama lain saling menunggu untuk kembali menyeberangi sungai untuk pulang. Sesampainya di rumah teman saya, kami menghitung penghasilan jualan hari itu dan hasilnya dibagi 2. Duh, asli senangnya waktu itu. Walaupun nggak seberapa, tapi itu hasil jerih payah kami sendiri. Mau tau satu hal, orang tua saya tidak pernah mengetahui kalau anaknya waktu itu suka dagangin dagangan orang ke sana kemari dengan kucelnya.
Hal itu tentu saja pengalaman yang sangat berharga. Tidak ada rasa malu saat itu, yang ada hanya “asal ketun senang” (*bahasa dayak: asal anda senang). Bersyukur berapapun yang didapat hari itu, dan tentu saja langsung habis jajan di mana-mana hari itu juga :p hehe….
Selama beberapa tahun, ingatan ini entah terendap di mana. Sekarang, terus terang sedikit malu untuk melakukan hal seperti itu lagi. Tapi, kembali lagi setiap menghadapi hal seperti itu, satu pernyataan berikut ini selalu muncul di otak saya
“Kenapa mesti malu?! Bukan sesuatu yang salah kok!!!” dan
“Malu untuk hal yang baik itu = RUGI BESAR!” Ok?! Ok!!!
Sudah ada bekal yang ternyata sudah ada sejak kecil, kenapa nggak dimanfaatkan untuk hal yang mungkin lebih baik dan lebih ruar biasa lagi dari sebelumnya?!
Baiklah… Mari memanfaatkan pengalaman yang sudah ada sebagai semangat untuk memacu yang sedang tersendat-sendat!!! Kesenangan dan semangat berdagang waktu kecil itu (walaupun judulnya dagangin dagangan orang), semoga bisa menular kembali saat ini. Amiiiinnnn....
Baiklah… Mari memanfaatkan pengalaman yang sudah ada sebagai semangat untuk memacu yang sedang tersendat-sendat!!! Kesenangan dan semangat berdagang waktu kecil itu (walaupun judulnya dagangin dagangan orang), semoga bisa menular kembali saat ini. Amiiiinnnn....
No comments:
Post a Comment